COVID-19 atau
sering disebut virus corona merupakan virus yang menjalar dengan cepat tanpa diketahui
secara jelas dengan mata, namun virus itu berada disekitar kita. Virus ini terdeteksi
mulai mewabah pada bulan Desember 2019 di Kota Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok,
saat ini menjalar hingga keseluruh penjuru dunia dengan sangata cepat
pertumbuhannya, sehingga pada tanggal 11 Maret 2020 World Health Organization (WHO) menetapkan
wabah ini sebagai pandemi global.
Organisasi Pendidikan,
Keilmuwan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada kamis
(5/3) bahwa wabah Virus Corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan,
hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya diseluruh dunia dan
mengancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan.
Presiden Joko widodo
mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada (2/3), Jokowi
mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas diluar rumah demi menekan
penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. ujar Jokowi dalam konferensi
pers di istana bogor, jawa barat Minggu (15/3).
Mewabahnya Covid-19 di
Indonesia nampaknya membawa dampak yang cukup signifikan. Dampak tersebut juga
dirasakan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Untuk menekan penyebaran
corona, sejak 16 Maret 2020 pemerintah memutuskan agar siswa-siswi belajar dari
rumah. Dengan adanya kebijakan yang mengimbau untuk melakukan seluruh kegiatan
belajar mengajar di rumah sehingga meniadakan kegiatan dikampus dan mengosongkan kelas serta menggantinya dengan
pertemuan secara online.
Seluruh jenjang pendidikan
dari sekolah dasar/ibtidaiyah hingga perguruan tinggi (universitas) baik yang
berada dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI maupun yang berada
dibawah Kementerian Agama RI semuanya memperoleh dampak negatif karena pelajar,
siswa dan mahasiswa “dipaksa” belajar dari rumah karena pembelajaran tatap muka
ditiadakan untuk mencegah penularan covid-19.
Belajar di rumah menjadi
langkah yang dinilai ampuh dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Namun,
tidak semua pelajar, siswa dan mahasiswa terbiasa belajar melalui online.
Apalagi guru dan dosen masih banyak belum mahir mengajar dengan menggunakan
teknologi internet atau media sosial terutama di berbagai daerah. Sementara,
bagi sebagian orang tua yang mendampingi atau mengajari anaknya belajar di
rumah juga mengeluh bahkan kesal dengan berbagai keluhan yang bermunculan di
medsos. Mulai stres, pusing, bahkan protes keras karena merasa tugas yang
diberikan para guru secara online terlalu banyak dan berat.
Ketua KPAI Ratna Listyarti
sempat berkomentar, belajar di rumah secara online justru membuat anak makin
stres. "Banyak tugas bahkan jauh lebih banyak jika dibandingkan belajar di
sekolah biasanya," katanya di Jakarta.
Terdapat beberapa faktor penghambat
dari efektivitas proses pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, diantaranya :
1. Rendahnya penguasaan teknologi
Baik
itu pendidik maupun peserta didik, belum sepenuhnya dapat mengaplikasikan/
menggunakan teknologi yang tersedia, atau bahkan masih ada sekolah yang belum
pernah menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran sehingga perlu adanya
bimbingan dalam pemakaiannya.
2. Keterbatasan sarana dan prasarana
Tidak
semua peserta didik mempunyai perangkat atau fasilitas teknologi yang
diperlukan dalam pembelajaran, misalnya komputer, laptop. atau perangkat versi
tertentu, sehingga menghambat terjadinya proses belajar.
3. Ketersediaan jaringan internet.
Tidak
semua peserta didik mempunyai kuota internet yang memadai atau mendukung proses
belajar karena tingginya kuota internet yang dipakai, sehingga lebih boros
biaya yang dikeluarkan serta banyak gangguan bila terjadi akses pending atau jaringan di wilayah rumah
kurang bagus.
4. Belum adanya sistim yang mengatur
pembelajaran jarak jauh dengan baik.
Pembelajaran
jarak jauh saat ini belum bisa dikatakan berjalan sesuai harapan, karena banyak
yang tidak menggunakan waktu belajar dengan benar. Misalnya peserta didik hanya
absen kelas saja tanpa mengikuti jalannya perkuliahan dan memanfaatkan waktunya
untuk bermain media sosial atau bermain game online serta mudahnya mencari
informasi (menyontek) saat ujian berlangsung secara online.
Demikian tulisan ini saya
buat, semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua. Mari kita dukung segala
bentuk pencegahan virus corona supaya tidak lama ini terjadi serta kita dukung
pemerintah supaya menemukan solusi atas permasalahan yang timbul dimasa pandemi
global ini. Cukup sekian, terima kasih atas kesempatannya telah mengunjungi halaman
ini.
DAFTAR PUSTAKA :

No comments:
Post a Comment