Monday, 20 April 2020

Corona Menjalar, Pembelajaran Terhantar




Oleh : Luthfi Rachnady & Marsofiyati, S.Pd, M.Pd.

COVID-19 atau sering disebut virus corona merupakan virus yang menjalar dengan cepat tanpa diketahui secara jelas dengan mata, namun virus itu berada disekitar kita. Virus ini terdeteksi mulai mewabah pada bulan Desember 2019 di Kota Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok, saat ini menjalar hingga keseluruh penjuru dunia dengan sangata cepat pertumbuhannya, sehingga pada tanggal 11 Maret 2020 World Health Organization (WHO) menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. 

Organisasi Pendidikan, Keilmuwan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada kamis (5/3) bahwa wabah Virus Corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan, hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya diseluruh dunia dan mengancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan.

Presiden Joko widodo  mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada (2/3), Jokowi mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas diluar rumah demi menekan penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. ujar Jokowi dalam konferensi pers di istana bogor, jawa barat Minggu (15/3).

Mewabahnya Covid-19 di Indonesia nampaknya membawa dampak yang cukup signifikan. Dampak tersebut juga dirasakan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Untuk menekan penyebaran corona, sejak 16 Maret 2020 pemerintah memutuskan agar siswa-siswi belajar dari rumah. Dengan adanya kebijakan yang mengimbau untuk melakukan seluruh kegiatan belajar mengajar di rumah sehingga meniadakan kegiatan dikampus dan  mengosongkan kelas serta menggantinya dengan pertemuan secara online.

Seluruh jenjang pendidikan dari sekolah dasar/ibtidaiyah hingga perguruan tinggi (universitas) baik yang berada dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI maupun yang berada dibawah Kementerian Agama RI semuanya memperoleh dampak negatif karena pelajar, siswa dan mahasiswa “dipaksa” belajar dari rumah karena pembelajaran tatap muka ditiadakan untuk mencegah penularan covid-19.

Belajar di rumah menjadi langkah yang dinilai ampuh dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Namun, tidak semua pelajar, siswa dan mahasiswa terbiasa belajar melalui online. Apalagi guru dan dosen masih banyak belum mahir mengajar dengan menggunakan teknologi internet atau media sosial terutama di berbagai daerah. Sementara, bagi sebagian orang tua yang mendampingi atau mengajari anaknya belajar di rumah juga mengeluh bahkan kesal dengan berbagai keluhan yang bermunculan di medsos. Mulai stres, pusing, bahkan protes keras karena merasa tugas yang diberikan para guru secara online terlalu banyak dan berat.

Ketua KPAI Ratna Listyarti sempat berkomentar, belajar di rumah secara online justru membuat anak makin stres. "Banyak tugas bahkan jauh lebih banyak jika dibandingkan belajar di sekolah biasanya," katanya di Jakarta.

Terdapat beberapa faktor penghambat dari efektivitas proses pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, diantaranya : 

1.    Rendahnya penguasaan teknologi
Baik itu pendidik maupun peserta didik, belum sepenuhnya dapat mengaplikasikan/ menggunakan teknologi yang tersedia, atau bahkan masih ada sekolah yang belum pernah menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran sehingga perlu adanya bimbingan dalam pemakaiannya. 

2.    Keterbatasan sarana dan prasarana
Tidak semua peserta didik mempunyai perangkat atau fasilitas teknologi yang diperlukan dalam pembelajaran, misalnya komputer, laptop. atau perangkat versi tertentu, sehingga menghambat terjadinya proses belajar. 

3.    Ketersediaan jaringan internet.
Tidak semua peserta didik mempunyai kuota internet yang memadai atau mendukung proses belajar karena tingginya kuota internet yang dipakai, sehingga lebih boros biaya yang dikeluarkan serta banyak gangguan bila terjadi akses pending atau jaringan di wilayah rumah kurang bagus. 

4.   Belum adanya sistim yang mengatur pembelajaran jarak jauh dengan baik.
Pembelajaran jarak jauh saat ini belum bisa dikatakan berjalan sesuai harapan, karena banyak yang tidak menggunakan waktu belajar dengan benar. Misalnya peserta didik hanya absen kelas saja tanpa mengikuti jalannya perkuliahan dan memanfaatkan waktunya untuk bermain media sosial atau bermain game online serta mudahnya mencari informasi (menyontek) saat ujian berlangsung secara online.

Demikian tulisan ini saya buat, semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua. Mari kita dukung segala bentuk pencegahan virus corona supaya tidak lama ini terjadi serta kita dukung pemerintah supaya menemukan solusi atas permasalahan yang timbul dimasa pandemi global ini. Cukup sekian, terima kasih atas kesempatannya telah mengunjungi halaman ini.

DAFTAR PUSTAKA :

No comments:

Post a Comment